Pertama kali diterbitkan pada tahun 1891, Duel berkisah tentang morakitas manusia di tengah adu domba yang terjadi antara seorang ilmuwan, pegawai pemerintah, majikannyya, seorang diaken, dan seorang dokter.
Sehimpun cerita pendek dalam buku ini menitik beratkan masalah bunuh diri pada ketidakberesan yang ada pada sistem, pada bagaimana relasi antara sistem dan individu yang ada di dalamnya.
Selain cerpen-cerpen bertema cinta yang gelisah dan kesunyian manusia, sebagian cerpen dalam buku ini menyiratkkan rasa simpati pengarangnya terhadap mereka yang menjadi korban dalam sejumlah periistiwa kelam diberbagai belahan bumi, dari Aceh sampai Argentina
"Kita kehilangan lagi orang yang baik dan mencerahkan. Selamat jalan Ustadz Jefri, semoga nilai yang disebarkan bisa menginspirasi kita semua." Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI
Membicarakan satu per satu karya dalam buku ini tentu saja menarik. Meski sebagian besar cerita masih terjebak pada kulit luar tema yang dibidik, tapi sebagiannya lagi sudah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan.
Keputusan adalah bagian dari diri manusia, dan pikiran-pikiran liar, yang kemudian menjadi cerita-cerita absurd dan tragis, muncul dari keputusan itu.
Semua orang berhak untuk gagal dan berduka, semua orang juga berhak untuk terbebas dari belenggu kegagalan dan kedukaannya.
Bocah itu dijuluki: Si Pangeran Congkak! Sombonng dan tak punya kawan. Tak peduli dengan orjang-orang di sekitarnya. Hanya ada seorang anak perempuan yang nekat menitipkan cintanya melalui sepucuk surat.